“Ekonomi tanpa nurani hanyalah alat pemuas ambisi, namun ekonomi dengan iman adalah kunci pembuka pintu kesulitan manusia.”
Wahdah Atifah, seorang sarjana ekonomi lulusan terbaik, harus menelan pil pahit saat dunia yang ia bangun runtuh seketika. Pasca wafatnya kedua orang tua, ia dikhianati dan diusir oleh kakak kandungnya sendiri demi harta warisan. Selembar ijazah Cum Laude seolah tak berdaya melindunginya dari dinginnya malam di teras masjid.
Di titik nadir, Wahdah menemukan “rumah” di dalam kamar marbot yang sempit. Di bawah bimbingan Kak Fatimah dan komunitas hijrah, Wahdah tidak hanya belajar merapikan administrasi masjid yang kacau, tapi juga merapikan hatinya yang penuh karat dendam. Ia mulai membangun bisnis “Loka Berkah” dari nol, sebuah ekosistem ekonomi umat yang memberdayakan para mustahik.
Namun, ujian sesungguhnya datang saat ia mulai mapan. Wahdah dihadapkan pada dilema menikmati kesuksesannya sendirian sebagai bentuk pembalasan atau menjalankan mandat tersembunyi di balik namanya Wahdah yang berarti Persatuan. Terinspirasi dari keteguhan hati Nabi Yusuf AS, Wahdah memutuskan untuk menjemput kembali kakak-kakaknya yang kini hancur didera badai kehidupan. Ini bukan sekadar cerita tentang kesuksesan finansial, melainkan perjalanan pulang seorang anak manusia menuju pengampunan yang paling tulus di depan pusara orang tua.